__HarapKu__
Aku yakin tak pantas sudah
aku ketuk pintu rumahmu untuk bertamu
karna yang kutau sudah ada penghuninya

Bisaku,,
hanya merawat indah taman di halaman itu
karna mawarku sudaj terlanjur aku tanam
dan takkan kubiarkan layu
karna kumbang penghuni itu

Harapku,
kau sambut kedatanganku
_MUSNAH SUDAH [Beyond one’s self]_

Keranda jiwa telah di pulangkan
Tinggal sepotong nisan rasa yg tergletak di blataran rerumputan kering
Sejuk air kembang tujuh rupa tak mampu redam gemuruh jeritan sukma
Membangunkan roh-roh kehampaan kalbu

Para peziarah enggan lambaikan tangan
Seakan merelakan kepergian sang rasa
Entah kemana ?
Sendirikah disana ?
Para petuahpun tak lagi sudi komat kamit mangantarkannya pergi
Kenang pada pijak satu sandal jepit
Terbawa arus banjir kekecewaan

Keranda jiwa telah lapuk di pembaringan
Tinggal serpihan tanah sisa penguburan asa di hembus angin lara
Berteduh pada ranting rapuh
Sejuk embun malam,
Dan rintik hujan di malam sepi itu membawanya pergi pada kehampaan diri
Musnah sudah

[ ce__Tnggrng,140809/0:15 ]
_KUALUNKAN LAGUKU_
Larut bersama gumam di lenting dawai
Kian kali mengisah bait di tiap nada riang
Mangalun dalam pesona
Ada aura di tiap baris puisi yang tercipta
Harus seperti yang dirasa
 Di lubuk hati Maha Karya

Senyum menyapa
Mengibas lara diasingkan semasa
Di alunkan lagu
Di mainkan ngiang petikannya
Sambutku sorak bahagiamu
Aku, di panggung keangunganku.

_Dawai Bisu_
Syair sendu menyapa wajah kusut
Oleh sorot mentari di sepanjang jalan
Ada jejak kaki yang using memijaki nasip
Antara pasrah dan keangkuhan
Mencoba diri menerobos gerbang berduri
Tanpa bait, syair itu ku lagukan

Dari mana kan kutata not yang berserakan
Kupetik tanpa gitar
Kugesek tanpa biola
Kuketuk tanpa piano
Kutabuh tanpa drum
Laguku tercipta di kesunyian
Senyap tanpa suara
Aku terdiam
_Perjalanan Pena V_


_V_
Jangan…
Kau seperti yang dulu-dulu
Kau habiskan warna kelabumu
Untuk melukis duniamu hanya dengan cuma satu warna itu
Masih ada kuning
Masih ada mirah
Masih ada biru
Masih ada putih
Masih ada warna-warna lain
Yang kan warnai hidupmu

Skarang…
Kau bukan pena yang kemarin
Yang terbaring di sepanjang lipatan kertas
Menulis hanya satu kata
Melikis hanya satu warna

Engkau pena hari ini 
Banyak kata di kamusmu
Banyak warna di kanvasmu
Menulislah…
Melukislah…
Berkaryalah…
Semua menunggu

_Rindu_
I
Renggut senyum bulan, inginku
Hayalku jadi, untuk malam
Pergi, pergilah jangan
Datanglah tiba
Manunggumu aku.

II
Terdengar dawai hati di lenting hayal
Aku denganmu
Di nirwanaku

III
Diri yang terlempar
Berlayar tanpa haluan
Terombang ambing gelombang
Inginku kembali
Beradu dengan mimpi
Genggam tangan rinduku erat
Terlepas dalam peraduan

Aku terlelap.
  • Pengikut

    Daftar Blog

    Newsreel

    Loading...